Religion in the Making Religion in the Making by Alfred North Whitehead

Menyenangkan akhirnya bisa menemukan buku ini. Sangat susah nyarinya. Tau-tau ada edisi bahasa Indonesianya aja. Sayang udah nanggung baca.
Coba tau ada versi bahasa Indonesianya.🙂
Hm….Belum selesai, jadi belum selesai ngebuat summary.

Tidak seperti dalam aritmatika, tidak ada kesatuan definisi untuk menyatakan kebenaran suatu agama. Yang pasti, karakter seseorang berkembang sesuai dengan arah keyakinannya. Agamalah yang menyucikan kehidupan batin. Karenanya, kebaikan religius pertama adalah sincerity yang mendalam. Sedang pada intinya, agama adalah solitariness. Dari sini, yang diharapkan dari agama adalah karakter yang layak. Yang penting dari agama ialah makna transendennya, hal ini bisa dilihat dari bukti-bukti sejarah.

Walau tidak memberi dampak yang sama dalam kurun sejarah, pun urutannya bisa berbeda, tapi dari ekspresi lahiriahnya dalam sejarah, agama memiliki empat faktor penting. Ialah ritual, emosi, keimanan, dan pertanggungjawaban rasional. Pada tahap, keimanan dan rasionalitas mau tidak mau harus kita kesampingkan, sedangkan emosi hanyalah efek samping dari ritual. Perlahan emosi dianggap lebih penting, hingga ritual dijalankan untuk membangkitkan emosi tertentu. Lalu muncul kesaksian keimanan yang berusaha menjelaskan ritual dan emosi. Dengan munculnya keimanan, benih rasionalitas telah ditanamkan dalam agama. Zaman para martir dan syuhada dimulai dengan munculnya kecenderungan yang lebih rasional.

Tahap awal dari agama secara hakiki bersifat sosial, sedang tahap akhirnya mengenalkan manusia pada kesendirian. Dari komunalisme—praktek agama yang berhasil mempertahankan struktur sosial dan membentuk masyarakat menjadi lebih maju—agama kemudian bergeser dengan berupaya mengangkat makna hidup dan relijiusitas individual.

Agama rasional adalah buah dari munculnya kesadaran religius yang bersifat universal, bukan kesukuan, pun sosial. Namun, karena agama adalah apa yang dilakukan individu dengan kesendiriannya, ia harus mengambil jarak dari lingkungan sosial dan berefleksi terhadap kehidupan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia.

Problematika evils—kejahatan moral, penderitaan, dan kesengsaraan—misalnya, walaupun diselesaikan dengan cara yang berbeda-beda, semua agama berupaya membebaskan diri dari kungkungan ini. Namun, bisa dikatakan, jalan yang ditempuh niscaya serupa. Mengangkat hidup ke tingkat yang lebih tinggi dengan cara mengalahkan kejahatan dalam diri.

Problem favorit lain dari agama ialah upaya mencapai kebijaksanaan. Refleksi atas pengalaman aktual merupakan jalan utama untuk menyimpul prinsip-prinsip umum. Kadang disampaikan dalam bentuk pepatah atau kalimat yang jenaka, bersahaja, sederhana, dan tentu saja reflektif. Namun, bukan berarti emosi diabaikan begitu saja, hanya agama tidak membatasi diri pada momen-momen yang melulu emosional. Sehingga, seringkali kebijakan bukan merupakan sebuah hasil formulasi pemikiran, semata deskripsi langsung dari “insight” dan intuisi.

Agama dibangun berdasar kemunculan—secara bersama dalam satu momen—tiga konsep serumpun.
Nilai individu bagi diri sendiri;
Nilai antar individu dan hubungan satu sama lain;

Nilai dunia objektif, ialah hasil hubungan antar individu yang merupakan syarat eksistensi tiap-tiap individu.
Kesadaran religius merupakan pengembaraan refleksi diri untuk menemukan nilai hidup. Perjalanan yang bermuara pada kepasrahan pada klaim universal namun sekaligus merengkuhnya bagi diri, sehingga bisa mewujudkan karakter ideal. Tidak dimungkiri kesesuaian ini tidak mungkin tercapai sedetil-detilnya. Namun, seluruh intuisi kesesuaian dan perbedaan itu membentuk kontras yang kemudian dicurahkan pada pengalaman religius. Dan selama kesesuaian itu belum tercapai sepenuhnya, evil tidak mungkin musnah dari dunia.

Dalam berbagai hal, pemahaman akan Tuhan bisa ditarik dari tiga konsep. Imanensi, transendensi, dan monisme. Walau menghadapi masalahnya masing-masing, namun bisa dikatakan ketiga konsep itu melihat Tuhan sebagai sesuatu di luar mereka yang memiliki kemahaan dan seringkali harus mengabaikan rasionalitas.

*Karena laptop hilang, pun buku yang sedang dibaca hilang. Jadi, sementara summary tidak bisa dilanjutkan sampai entah kapan..
Maaf, teman-teman.
🙂
View all my reviews >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s