Metaphysics Metaphysics by Aristotle

My rating: 3 of 5 stars
Ternyata setelah selesai dibaca, tak seseram yang kukira. Tentu terlalu sombong jika dikata memahami semua isinya. Tapi, kira-kira inilah yang kutangkap dari Metaphysics

Setiap manusia pada kodratnya menghasrati pengetahuan dan kebijakan. Untuk itu pengembaraan ilmu haruslah tanpa pamrih.

Metaphysics, terdiri dari empat belas buku. Buku pertama sampai buku tiga diisi dengan ringkasan pemikiran filsafat pada masa sebelum Aristoteles. Dia menjelaskan tentang kebijakan dimulai dengan persepsi inderawi yang kemudian diabstarksi ke dalam wilayah ilmu pengetahuan. Pengetahuan seperti itu memerlukan pemahaman akan fakta inderawi dan penyebab-penyebabnya. Selain itu, kebijakan hanya akan didapat jika mampu memahamai prinsip universal dan penyebab utama berdasarkan pengetahuan itu.

Pada buku empat dia berargumen berkenaan beberapa pemikiran menyesatkan. Dia berasyik-masyuk dengan hukum kontradiksi, bahwa sesuatu tidak bisa sekaligus menjadi be dan bukan be pada saat yang bersamaan. Pembahasan tentang relativisme dan nihilisme—hal yang menghasilkan pemikirian kontradiktif—di sini lebih dia perdalam lagi. Hubungan antara bentuk dan materi juga nampak jelas menjadi masalah utama Aristoteles. Dia yakin keduanya substansial. Lebih tepatnya, materi adalah potensi, sedang bentuk adalah aktualnya. Keduanya tak terpisahkan, berkelindan.

Buku berikutnya membicarakan berbagai topik, seperti kebhinekaan, ketunggalan, objek matematika, dll—sebagian besar tidak dibahas mendalam, cenderung diabaikan, mungkin karena tidak langsung bersentuhan dengan tema utama Metaphysics.

Buku 12 merupakan klimaks pemikiran metafisikanya, di sini dia malah membicarakan sistem teologi. Dimulai dengan ide tentang substansi—ada tiga macam, berubah dan fana, berubah dan abadi, dan yang tak berubah. Jika semua yang berubah fana, konsekuensinya “kiamat” tidak dapat dihindari. Kemudian dia memasukkan dua entitas yang tidak mungkin fana, gerak dan waktu.

Jika waktu diciptakan, maka pasti tidak ada waktu sebelum penciptaan, tapi kata “sebelum” sudah pasti berhubungan dengan konsep waktu. Sedangkan gerak yang tak mungkin terputus adalah gerak melingkar. Dari sini dia masuk ke ide tentang Penggerak-yang-tak-bergerak, karena cuma dialah yang bisa menyebabkan gerak melingkar abadi. Penggerak-yang-tak bergerak merupakan penyebab akhir semesta dan murni sekedar aktus, tanpa materi, karena dialah yang menyebabkan dirinya sendiri. Karena penggerak tidak akan bergerak jika dia bergerak tidak dalam tataran fisik.

Penggerak atau Tuhan sepertinya merupakan konsep standar tentang being yang bersifat Tuhan. Walau Aristoteles menegaskan bahwa dia (penggerak-yang-tak-bergerak) merupakan mahluk hidup dan membawai sifat ketuhanan, dia juga tidak memiliki hasrat terhadap dunia dan tidak bisa dikenali karena dia ada pada level yang sangat abstrak dan transenden. Aktivitasnya hanyalah pengetahuan dan hanya pengetahuan tentang dirinya, karena being yang sangat abstrak sudah mengatasi pemikiran pun pengalaman, hanya mengetahui yang paling.

View all my reviews >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s